3 September 2012

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7. Semula ibu kotanya di Muara Takus. Setelah wilayahnya bertambah luas, ibu kotanya berpindah-pindah. Mula-mula pindah ke Jambi, kemudian ke Palembang.

Wilayah kerajaan Sriwijaya sangat luas, meliputi berbagai daerah Nusantara, bahkan sampai ke luar Nusantara. Dari tepian sungai Musi di Sumatera Selatan, pengaruh Kerajaan Sriwijaya terus meluas mencakup Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Bangka, Laut Jawa Bagian barat, Bangka, Jambi Hulu, dan mungkin juga Jawa barat (Tarumanegara), Semenanjung Malaya hingga ke Tanah Genting Kra.

kerajaan-sriwijaya
Orange=pusat Sriwijaya, Orange pucat=daerah kekuasaan, Merah tebal=rute perdagangan besar, Merah tipis=rute perdagangan kecil, Bulat merah=ibukota, Bulat Hitam=pusat perkotaan penting

Peranan Sriwijaya
Sebagai Negara Maritim.
Untuk menjaga keamanan wilayah lautan yang cukup luas, Sriwijaya membangun armada yang kuat. Sriwijaya memiliki ciri khas yaitu sebagai negara perdagangan. Itu dikarenakan kebanyakan kerajaan lain adalah kerajaan agraris. Armada yang kuat diperlukan untuk menjamin keamanan perdagangan lewat laut. Armada Sriwijaya mampu mengamankan seluruh lautan Nusantara dan Selat Malaka. Bahkan Sriwijaya pun berhasil membangun pangkalan armada di Ligor, Semenanjung Malaka. Karena armada kuat yang mampu menguasai lautan Nusantara sekaligus melindunginya itulah yang membuat Sriwijaya disebut-sebut sebagai Negara Maritim.

Dilihat dari jalur pelayaran antara India dengan Cina, letak Sriwijaya sangat strategis. Sebab Pulau Sumatera dilewati oleh dua jalur pelayaran antara India dengan Cina. Kedua jalur pelayaran India-Cina itu adalah :
  • Jalur utara, lewat Selat Malaka
  • Jalur selatan, lewat Selat Sunda
Kedua jalur pelayaran tersebut sangat menguntungkan Sriwijaya. Kapal-kapal dagang yang lewat jalur utara maupun selatan, tentu melewati pantai timur Sumatera. Oleh karena itu, pastilah kapal-kapal tersebut singgah di bandar Sriwijaya. Hal itu mendorong kemajuan pelayaran dan perdagangan Sriwijaya. Sementara itu, armada Sriwijaya selalu siaga menjaga keamanan wilayah lautnya, dan mengamankan serta memperlancar perdagangannya. Usaha-usaha yang dijalankan oleh armada Sriwijaya ialah :
  • Menguasai jalur-jalur pelayaran dan pelabuhan-pelabuhan
  • Merebut daerah-daerah yang dapat menjadi saingan dalam perdagangan
  • Membasmi bajak laut, untuk menjamin keamanan kapal-kapal dagang. (Oleh karena itu, para kapal dagang yang menuju ke bandar Sriwijaya benar-benar merasa aman dan tidak takut untuk singgah ke sana)
Kapal-kapal dagang dari seluruh Nusantara dan Asia Tenggara pun berlabuh di bandar Sriwijaya. Bahkan kapal-kapal dagang India dan Cina juga berlabuh disitu.

Sebagai Pusat Agama Buddha.
Peranan Sriwijaya sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu tentang agama Buddha. Di kerajaan Sriwijaya terdapat sebuah perguruan tinggi agama Buddha. Di perguruan tinggi tersebut diajarkan ilmu tentang agama Buddha dan ilmu bahasa sansekerta. Lebih dari seribu orang pendeta Buddha belajar di Perguruan Tinggi Sriwijaya. Mereka ada yang berasal dari Cina, ada pula yang berasal dari Tibet. Pendeta yang berasal dari Cina antara lain bernama I-Tsing. Sedangkan yang berasal dari Tibet bernama Atisa.

Atisa menjadi murid pendeta Dharmakirti (Sakyakirti), pendeta tertinggi kerajaan Sriwijaya. Dharmakirti juga menjabat sebagai mahaguru di Perguruan Tinggi Sriwijaya. Para pendeta Cina yang akan belajar di Perguruan Tinggi Nalanda (India), terlebih dahulu harus belajar di Perguruan Tinggi Sriwijaya untuk memperdalam ilmu tentang agama Buddha dan bahasa Sansekerta.

Raja Sriwijaya bukan hanya pemeluk agama Buddha yang taat, tetapi juga menjadi pelindung bagi para pemeluk agama Buddha lain. Pemuda-pemuda Sriwijaya dikirimkan ke India untuk menuntut ilmu agama Buddha ke Perguruan Tinggi Nalanda. Di India, Raja Balaputradewa membangun sebuah biara di Benggala. Gunanya sebagai tempat tinggal bagi para pemuda Sriwijaya yang bersekolah disana. Pembangunan biara itu mendapat bantuan dari Raja Dewapaladewa, raja dari Kerajaan Pala di Benggala, India. Hal itu dapat diketahui dari prasasti Nalanda di India yang berangka tahun 860. 

Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya
  • Prasasti
    • Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan bahwa Raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang membawa tentara sebanyak dua puluh ribu orang berhasil menundukan Minangatamwan. Dengan kemenangan itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi makmur. Daerah yang dimaksud Minangatamwan itu kemungkinan adalah daerah Binaga yang terletak di Jambi. Daerah itu sangat strategis untuk perdagangan.
    • Prasasti Telaga Batu. Prasasti ini menyebutkan tentang kutukan raja terhadap siapa saja yang tidak taat terhadap raja Sriwijaya dan juga melakukan tindakan jahat.
    • Prasasti Talang Tuwo. Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan taman Srikesetra atas perintah raja Dapunta Hyang.
    • Prasasti Kota Kapur. Prasasti berangka 686 M itu menyebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya berusaha untuk menaklukan bumi Jawa yang tidak setia pada Kerajaan Sriwijaya. Prasasti tersebut ditemukan di Pulau Bangka.
    • Prasasti Karang Berahi. Prasasti berangka tahun 686 M itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi, yang menunjukkan penguasaan Kerajaan Sriwijaya atas daerah itu. 
    • Prasasti Ligor. Prasasti berangka tahun 775 M itu menyebutkan tentang ibukota Ligor dengan tuhuan mengawasi pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka.
    • Prasasti Nalanda. Prasasti ini menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai raja terakhir dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Raja Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Dinasti Syailendra. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Dewa Paladewa berkenan membebaskan lima desa dari pajak dan sebagai gantinya membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda.
  • Berita Arab. Dari berita ini diketahui bahwa banyak pedagang Arab yang melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya. Bahkan di pusat Kerajaan Sriwijaya ditemukan perkampungan-perkampungan orang-orang Arab sebagai tempat tinggal sementara. Keberadaan kerajaan Sriwijaya juga diketahui dari sebutan orang-orang Arab terhadap Kerajaan Sriwijaya seperti Zabaq, Sabay, atau Sribusa. 
  • Berita India. Dari berita ini diketahui bahwa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di India seperti Kerajaan Nalanda dan Kerajaan Cholamanda. Dengan kerajaan Nalanda disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan satu prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Nalanda. Kerajaan Sriwijaya juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Chola (Cholamanda) yang terletak di India Selatan tetapi putus setelah Raja Rajendra Chola ingin meguasai Selat Malaka. 
  • Berita Cina. Berita ini ditulis oleh I-Tsing berdasarkan catatan perjalanannya. Ia mengadakan perjalanan dari Kanton ke India. Di Sriwijaya, I-tsing singgah selama enam bulan untuk belajar bahasa Sansekerta. Sepulang dari India tahun 685 M, ia singgah lagi di Sriwijaya. Kali ini ia tinggal di Sriwijaya selama empat tahun untuk menerjemahkan teks-teks Buddha dari bahasa Sansekerta ke Cina.
prasasti-karang-brahi
prasasti karang brahi
prasasti-telaga-batu
prasasti telaga batu

prasasti-kota-kapur
prasasti kota kapur
Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Sriwijaya antara lain adalah :
  • Raja Dapunta Hyang. Berita mengenai raja ini diketahui melalui Prasasti Kedukan Bukit 683 M dan prasasti talang tuwo 684 M. Pada masa pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Jambi. Sejak awal pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah bercita-cita untuk menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan Maritim.
  • Raja Cri Indrawarman berdasarkan berita Cina tahun 724 M.
  • Raja Rudrawikrama berdasarkan berita Cina tahun 728 M.
  • Raja Wishnu berdasarkan prasasti Ligor tahun 775 M.
  • Raja Maharaja berdasarkan berita Arab tahun 851 M.
  • Raja Balaputradewa. Dilihat dari prasasti Nalanda tahun 860 M. Pada awalnya, Raja Balaputradewa adalah raja dari Kerajaan Syailendra (di Jawa Tengah. Ketika terjadi perang saudara di kerajaan Syailendra antara Balaputradewa dan Pramodhawardani yang dibantu oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Bapalputradewa mengalami kekalahan. Akibat kekalahan itu, Raja Balaputradewa lari ke Sriwijaya. Di kerajaan Sriwijaya berkuasa raja Dharma Setru yang tidak memiliki keturunan sehingga kedatangan Raja Balaputradewa di kerajaan Sriwijaya disambut baik. Kemudian dia diangkat menjadi raja. Pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa, Kerajaan Sriwijaya berkembang pesat dan mengalami masa kejayaannya. Raja Balaputradewa meningkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan rakyat Sriwijaya. Disamping itu, raja Balaputradewa menjalin hubunga dengan kerajaan-kerajaan di luar wilayah Indonesia, terutama dengan kerajaan-kerajaan di India seperti kerajaan Benggala (Nalanda) juga dengan Kerajaan Chola. Bahkan pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
  • Raja Cri Udayadityawarman berdasarkan berita Cina tahun 960 M.
  • Raja Cri Udayaditya berdasarkan berita Cina tahun 962 M.
  • Raja Cri Cudamaniwarmadewa berdasarkan berita Cina tahun 1003 dan prasasti Leiden tahun 1044 M.
  • Raja Maraviyatunggawarman berdasarkan Prasasti Leiden tahun 1044 M.
  • Raja Sanggrama Wijayatunggawarman. Dilihat dari Prasasti Chola tahun 1004 M.Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mendapat ancaman dari kerajaan Chola. Di bawah Raja Rajendra Chola, Kerajaan Chola melakukan serangan dan berhasil merebut Kerajaan Sriwijaya. Sanggrana Wijayatunggawarman berhasil ditawan, namun pada masa pemerintaah Raja Kulottunga I di kerajaan Chola, Raja Sanggrama Wijyatunggawarman dibebaskan kembali. 

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya 

Akibat dari persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan, Raja Rajendra Chola mengadakan dua kali penyerangan. Pada penyerangan kedua, Raja Chola berhasil menangkap Raja Sanggrama Wijayatunggawarman serta berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting Kerajaan Sriwijaya.

Pada abad ke-13 M, Sriwijaya mengalami kemunduran yang luar biasa.

Kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak, karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga memiliki kepentingan dalam dunia perdagangan, seperti kerajan Siam di sebelah utara. Kerajaan Siam memperluas kekuasaannya ke arah Selatan dengan menguasai daerah-daerah di Semenanjung Malaka termasuk Tanah Genting Kra. Jatuhnya Tanah Genting Kra ke dalam kekuasaan kerajaan Siam mengakibatkan kegiatan pelayaran perdagangan di Kerajaan Sriwijaya makin berkurang.

Dari daerah timur, Kerajaan Sriwijaya terdesak oleh perkembangan Kerajaan Singasari, yang pada waktu itu di perintah oleh Raja Kartanegara. Kerajaan Singasari yang bercita-cita menguasai seluruh wilayah Nusantara mulai mengirim ekspedisi ke arah barat yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu. Dalam ekspedisi ini, Kerajaan Singasari mengadakan pendudukan terhadap Kerajaan Melayu, Pahang, dan Kalimantan sehingga mengakibatkan kedudukan Kerajaaan Sriwijaya makin terdesak.

Para pedagang yang melakukan aktivitas perdangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang, karena daerah-daerah strategis yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya telah jatuh ke kekuasaan raja-raja sekitarnya. Akibatnya, para pedagang yang melakukan penyeberangan ke Tanah Genting Kra atau yang melakukan kegiatan ke daerah Melayu tidak lagi melewati wilayah kekuasaan Sriwijaya. Keadaan seperti ini tentu mengurangi sumber pendapataan kerajaan.

Dengan alasan itulah, maka sejak akhir abar ke-13 M Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan wilayahnya terbatas pada daerah Palembang. Kerajaan Sriwijaya yang kecil dan lemah akhirnya dihancurkan oleh kerajaan Majapahit tahun 1377 M.

sumber gambar : http://misterdeejay.metaforix.net/indonesia/colonialism/before/Eempire.jpg dan balaputradewa dari Visit MUSI
sumber tulisan : Sejarah untuk SMA kelas XI Erlangga, IPS Sejarah Nasional dan Umum Untuk STLP kelas 1 Tiga Serangkai, dan http://www.scribd.com/doc/12620227/Kerajaan-Sriwijaya

1 komentar: