11 September 2012

Permen Coklat


Angin pagi ini begitu dingin menusuk sampai ke tulang. Biasanya aku tak akan bangun sepagi ini di saat langit pun belum jingga. Tapi aku tak bisa tidur semalaman. Perseteruan semalam masih membekas di hatiku. Aku dan Dad bertengkar hebat tadi malam. Kami sempat membanting pintu keras-keras, sama-sama tidak mau mengalah. Toh, aku juga tidak salah. Aku hanya mempertahankan keinginanku untuk mengikuti hal yang kusukai. Hanya Dad saja yang selalu mencekokiku dengan hal-hal ambisiusnya.

Aku anak tunggal dalam keluarga kecil ini. Hanya ada Dad dan aku. Dad bilang Mom meninggal setelah kelahiranku. Aku tak tahu hal lainnya lagi tentang Mom selain itu dan foto-fotonya bersama Dad. Aku juga tak ingin bertanya, karena hal itu akan membuat raut wajah Dad muram. Kurasa Dad selalu mencintai Mom. Dad akan "down" jika perseteruan kami berujung pada kata Mom. Dan biasanya kalau hal itu terjadi, akulah yang akan menang dalam pertengkaran itu. Tapi semalam aku tidak mengeluarkan jurus rahasiaku. Aku terlalu muak dengan semua itu dan lupa menyangkut-pautkan Mom kedalamnya. Tapi walau begitu, Mom pasti merasa sedih karena aku selalu memperalatnya nama jabatannya sebagai Mom, dan aku tidak menyesal karena tidak menyebutnya semalam.

Aku menyambar jaket dinginku sebelum keluar dari rumah. Bukan. Aku bukan kabur dari rumah, hanya saja aku mencari udara segar. Untung saja hari ini hari Minggu, kalau tidak pasti aku akan mengalami Bad-Mood sepanjang hari di sekolah. Aku berpikir tentang masalah semalam, Dad tidak seharusnya memarahiku. Aku yakin aku benar dalam keinginanku untuk mengikuti apa yang aku mau, dan pastinya aku bisa membedakan yang baik dan benar. Tapi Dad... aku muak.

Tak terasa dengan begitu banyak masalah di otakku, aku terdampar di suatu jalan. Di depanku terdapat tumpukan sampah dengan bau menyengat. Merasa terganggu dengan bau itu, aku membalikkan badan. Tapi sebelum aku membalikkan badan, mataku terpaku pada seorang gadis kecil di atas tumpukan sampah itu.

Gadis itu mengenakan baju terusan tipis yang lusuh, wajahnya kotor dan rambutnya di ikat asal-asalan. Aku penasaran dengan gadis itu. Aku berjalan mendekat ke arah tumpukan sampah itu sambil menutup hidung, tidak tahan dengan aromanya. Aku terkejut mengetahui bahwa gadis itu tidak sendirian. Ada dua gadis kecil lain yang mengais-ngais sampah. Mereka begitu fokus sampai tidak menyadari kehadiranku. Mungkin mereka hanya tidak memperdulikan diriku, atau orang lain yang melewati mereka.

"Kalian sedang apa dek?" tanyaku pada seorang gadis terdekat. Kupanggil dia dek, karena aku yakin mereka lebih muda dariku, sekitar lima tujuh tahun.

Gadis itu mendongak dan melihatku sekilas lalu balik ke kerjaannya, "Nyari uang kak."

Aku terheran. Bisakah sampah kotor dan bau itu menghasilkan uang bagi mereka? tanyaku dalam hati.

Merasa seseorang di sampingnya bengong akibat ucapannya, gadis itu yakin ia perlu memberikan penjelasan singkat. "Kami mengumpulkan barang ini untuk dijual. Kami gak  bisa ngelakuin apapun selain memilah sampah ini."

Oh. Aku terpaku. Tiga orang gadis mungil mengais sampah di pagi hari dengan pakaian serba tipis dan lusuh. Benar-benar tak disangka. Terlebih lagi kenyataan bahwa angin disini begitu dingin, terumata karena hujan deras subuh tadi. Aku merasa malu sendiri, aku membiarkan gadis-gadis muda di depanku bertarung dengan dinginnya pagi sambil bekerja, sedangkan diriku hanya menatapi mereka dengan baju tebal. Sungguh tidak adil rasanya.

"Orang tua ... kalian?" tanyaku hati-hati, takut kalau-kalau mereka yatim piatu dan hal itu akan membuat mereka sedih.

Sebelum gadis itu benar-benar mendengar pertanyaanku, sebuah teriakan lain mengalahkannya. "Udah siap?" teriak seorang bapak-bapak di belakang. Tampak sebuah sepeda dengan papan di sampingnya untuk meletakkan barang. Seorang wanita duduk di atas papan itu, dikepalanya bertengger kain besar. Becak itu berhenti di depan kami, penumpangnya bergegas turun begitu juga dengan pengemudinya.

"Belon pak!" seru gadis yang lain. Mungkin yang dimaksud adalah apakah mereka sudah siap mengais-ngais sampah kotor itu.

Bapak itu menatapku sekilas lalu balik dan membantu anaknya. Sementara ibu itu mengambil tong putih dari becak dan dengan cepat mengais sampah. Mereka berlima sama-sama dengan giat memilah-milah tumpukkan sampah dan melihatnya sebagai tumpukan uang. Di antara uang-uang itu, ada yang asli dan ada yang tidak. Dan untuk mencari yang asli mereka harus memeriksa satu-satu uang-uang di depannya. Setelah uang itu di dapat, mereka akan melemparnya kedalam tong putih. Lalu kembali lagi mencari uang asli.

Aku termangu. Lagi. Gadis itu pasrah dan ikhlas terhadap nasib yang mereka terima. Mereka sama sekali tidak mengeluh akan dinginnya pagi ini menerpa tubuh mereka. Mereka tidak berkomentar tentang bau sampah yang mereka hadapi. Mereka bahkan mengerjakannya sepenuh hati, bersama-sama. Kalau dibandingkan dengan diriku yang satu ini, pasti aku langsung kalah telak. Panas sebentar saja sudah langsung mengomel, apalagi dengan aroma menyengat ini. Tapi aku tahan keinginanku menutup setengah mukaku, rasanya kejam kalau hanya aku yang menutup hidung. Ibaratnya seperti seorang yang sombong sedang memperhatikan karyawannya dengan jijik.

Bapak itu menyadari bahwa aku masih belum beranjak dari tempatku, "Kenapa masih disini dek?"

Aku kehabisan kata-kata. Terlalu naif kalau aku menjawabnya dengan alasan sepele; ingin mencari udara segar sehabis bertengkar masalah keinginan sendiri. Sementara gadis itu tidak punya pilihan. Jadi aku hanya berujar lemah, "olahraga pak."

"Oh... gitu. Disini dingin lho dek. Bau lagi. Masa olahraga disini dek?" tanya bapak itu lagi.

Mau tak mau aku tidak nyaman dengan perkataan bapak itu. Aku hanya tersenyum salah tingkah. Aku meraba-raba saku jaketku. Seingatku masih ada beberapa barang didalamnya. Beberapa permen coklat kini bertengger di telapak tanganku. Dengan ini, setidaknya gadis itu punya jajan. Walau hanya secuil tapi setidaknya ada.

Kuberikan permen coklat itu pada gadis tadi. Dia melihat sebuah tangan didepannya, dan permen di atasnya. Dia mendongak dan melihatku lekat-lekat.

"Buat kalian." Kataku.

Kejadian hari ini tidak akan pernah kulupakan. Bahkan hanya dengan permen coklat yang kuberikan, gadis itu bahagia. Senyumnya merekah, manis semanis permen coklat yang kini dibagikannya dengan keluarganya. Gadis itu memberikanku banyak momen, sudah sepantasnya aku memberikan dia hadiah. Walau kutahu hadiah itu tidak seberapa dengan yang diberikan oleh gadis itu, yang penting aku ikhlas. Aku berdoa dalam hati semoga mereka sekeluarga mendapat berkah atas semua kerja keras yang mereka lakukan. Amin.


***


Suara percikan minyak goreng menyambut kepulanganku. Pasti Dad, pikirku. Aku bergegas melepaskan jaket dinginku dan menuju ke dapur. Dad dengan celemeknya menggoreng telur mata sapi. Aku berdiri di ambang pintu.

Dad tersenyum melihat kedatanganku. Aku membalasnya dengan senyuman terbaikku. Lalu aku duduk di kursi. Dad datang dan meletakkan dua porsi roti dengan telur di atas meja. Satu dadar untukku, dan mata sapi untuk dirinya sendiri.

"Dad..." "Jen..."

Kami berdua berbicara secara bersamaan. Kami sama-sama memandang satu sama lain. Aku memberanikan diri untuk bicara terlebih dahulu sebelum aku kehilangan momen penting satu ini.

"Dad, aku minta maaf kalau selama ini selalu menyusahkan Dad..."

Dad langsung menyelaku, "Dad juga. I'm really sorry. Aku tahu kau berhak mendapatkan keinginanku. Lakukanlah sesukamu. Tapi ingat, ada aturannya..."

Aku tak dapat menahan senyumku lagi. Dad memaafkanku, dan semua akan kembali normal! Aku berdiri dan kupeluk Dad erat-erat. Dad merangkulku dengan tangan besarnya.

"asalkan itu baik." sambung Dad.


sumber gambar : http://images.gourmandia.com/images/gourmetrecipe/recipe_images/ua-chocolate-candy-recipe-882.jpg
sumber cerita : dari gua! Kalau kebetulan ceritanya mirip, gua minta maaf tapi ini murni imajinasi gua. :)

1 komentar:

  1. siip.... ak suka ceritanya bagus. lupakan smua masalah,saling memaafkan karna persaudaraan jauh... lebih penting. salam sukses !!

    BalasHapus