Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

3 Oktober 2012

Mengenang lagi Marmut+Masa lalu

Gua baru aja habis utak-atik blog gua. Beh! Saat gua liat satu postingan "Terimakasih Marmut Imut", rasanya sedih benget. Entah kenapa, sepertinya gua yang dulu itu culun banget, duh!

Awal mulanya gua bisa tahu Marmut itu dari komentarnya di blog gua, tapi sepertinya komentarnya sudah menghilang. (Berhubung banyak tulisan jadul yang gua hapus) Marmut memberikan sejumlah tips yang cukup berharga bagi gua. Sepanjang sejarah kehidupan blog ini cuma si Marmut yang memberikan komentar panjang dan berarti. Oh, Marmut, apakah kamu masih aktif?

Omong-omong tentang diri gua yang culun, di masa itu ternyata gua masih gaptek banget! Dulu gua masih terlalu awam dengan yang namanya emoticon, apalagi template. Wah, tiba-tiba gua jadi malu sendiri melihat tulisan jadul gua. Tapi rasanya lucu juga, mengenang itu memang bisa membuat orang salah tingkah. 

Gua yang dulu menjadikan blog ini sebagai diari kecil gua. Dimana tulisannya itu biasanya gak lebih dari dua paragraf. Setelah gua mulai aktif "surfing" di internet, gua sadar bahwa tulisan gua benar-benar gak bermutu. Semenjak itulah banyak tulisan gua yang gua hapus, yang kebanyakan diari semua. 

Omong-omong lagi nih tentang internet. Gua mulai main internet semenjak sekitar tahun 2010. Waktu itu gua punya komputer di rumah, tapi gak ada layanan internet-nya. Alhasil kalau misalnya mau main internet harus ke warung internet, warnet. 
Dulu tuh, banyak online game yang beredar. Jadi gua ketularan saudara gua yang maniak game dan ikut main game juga. Nah, namanya juga online game, kalau main perlu ID. Dan ID itu perlu email. Dan gua gak punya email, jadi gua pengen buat email. Gua yang dulu culunnya gak ketulungan, mau buat email aja mesti nanya-nanya terus sampai-sampai saudari gua kewalahan. Mau nanya pencet yang mana lha, ketik apa lah, dan lain sebagainya gua tanyakan. Dan jadilah email baru gua. Dan gua bisa main game di warnet.

Setelah beberapa waktu punya email, gua pindah rumah. Tapi tetap, gak ada layanan internet. Jadi saat facebook lagi nge-trend, gua perlu pergi ke warnet buat daftar Facebook. Beberapa kali gua yang culun pergi ke warnet sama saudari gua. Mau tau ngapain aja ke warnet? Cuma buat buka facebook! Bayangin satu jam main warnet, cuma buat facebook-an. Gua masih ingat lagi, buka facebook bukan buat chattingan, tapi main pet-society. Gua kan dulu masih culunnya, gak tahu mau ngapain aja di internet. Gua yang dulu gak tahu internet itu luasnya bukan main. 

Karena gua dan saudara/i gua sering ke warnet, kami memutuskan untuk meminta Dad buat beli modem. Alasannya sih buat mengerjakan tugas, but you know what we actually mean. Dan ta-daaa, gua punya modem di rumah. Dan semenjak itulah, gua lebih aktif main facebook, nge-upload foto alay, main pet society dan cafe world. Dan yang paling penting dari semua itu adalah gua buat blog ini. 

Gua udah pernah menyinggung asal usul blog gua di salah satu tulisan gua, It's Almost Three Years, tapi gua bakal cerita lagi mumpung lagi doyan. Awalnya guru di sekolah gua yang menyuruh muridnya untuk membuat sebuah blog. Itu tahun 2010. Gua bingung mau kasih nama blog gua apa, terakhir-terakhir pas lagi di "ruang belajar", gua menemukan sebuah buku imut dengan tulisan "hanaru". Dari situlah lahir nama hanaruhanaru yang menjadi alamat blog gua sekarang. Sementara, "365 Day of Hope" itu gua dapat entah dari mana. Yang masih gua ingat adalah, waktu itu gua masih menanti dan berharap akan sesuatu yang sudah berpisah dari gua, dan lahirlah kata "Hope". =')

Waktu pertama-tama buat blog ini, gua gak sering update, karena gua juga masih culun. Setelah gua mendamparkan blog ini gua membaca sebuah komik seri berjudul I am Here! dari Ema Toyama. Nah, di dalam ceritanya yang seru itu, peran utamanya mempunyai sebuah blog. Jadi, gua juga ingin blog gua dibaca dan disukai banyak orang.  Jadilah, gua aktif kembali dalam dunia blogging.

Saat lagi panas-panas tai ayam main blog, gua melakukan riset tentang blog. Gua mencari ke seluruh pelosok internet. Gua meminta bantuan uncle Google buat bantuin gua dalam "riset" ini. Hanya sekadar main-main tapi, biasa lah, kalau main internet bisa lupa waktu. Gua mencari berbagai template blog, tips ini-itu, sampai-sampai terdampar di bagian iklan. Gua melihat kalau dari blog itu kita bisa menghasilkan uang. Pertama-tama gua gak terlalu tertarik, tapi lama kelamaan kecantol juga hati gua. Akhirnya dengan malu-malu gua daftar jadi anggota pemasang iklan. TAPI! Blog gua emang dasarnya gak ramai dan gak di gubris sedikitpun, jadi soal masang-masang iklan itu adalah big NO buat gua.

Baik buruknya internet itu sangat mengganggu gua. Kadang internet bisa memberikan kebaikan bagi kita. Tapi buruknya juga ada. Sebetulnya 'history' gua di internet itu cukup suram, gelap, dan berdebu. Email pertama gua, gua pakai buat segala kebutuhan registrasi gratis di internet. Mulai dari online games, website, blog, iklan, dan bisnis kecil lainnya. Akibatnya email gua sering kemasukan Spam sampah. Perlu waktu belasan menit buat menghapus plus mengorganisir email-email itu. Yah, untungnya sebagian sudah gua un-subscribe, tapi peluang Spam kembali itu bukan 0 juga, kan. Selain email kesayangan gua didamprat habis-habisan, dampak terburuknya adalah kurang memerhatikan diri sendiri. Gara-gara asyik internetan, bisa malas makan, malas mandi, malas tidur, dan lupa waktu. Gua yakin saat dewasa nanti gua bakal menyesali perbuatan gua "bersama" internet.

Selain sejarah kehidupan internet gua, masih banyak hal yang bisa dikenang, bukan hanya gua tapi kamu juga. Banyak yang hal yang terjadi dalam diri kita sendiri, dan ketika kita merenungkannya kembali, segala rasa bercampur aduk dalam diri kita. Kita bisa merasakan suka, duka, sampai salah tingkah. Benar, kan? ;) 
Lanjut Baca »

11 September 2012

Permen Coklat


Angin pagi ini begitu dingin menusuk sampai ke tulang. Biasanya aku tak akan bangun sepagi ini di saat langit pun belum jingga. Tapi aku tak bisa tidur semalaman. Perseteruan semalam masih membekas di hatiku. Aku dan Dad bertengkar hebat tadi malam. Kami sempat membanting pintu keras-keras, sama-sama tidak mau mengalah. Toh, aku juga tidak salah. Aku hanya mempertahankan keinginanku untuk mengikuti hal yang kusukai. Hanya Dad saja yang selalu mencekokiku dengan hal-hal ambisiusnya.

Aku anak tunggal dalam keluarga kecil ini. Hanya ada Dad dan aku. Dad bilang Mom meninggal setelah kelahiranku. Aku tak tahu hal lainnya lagi tentang Mom selain itu dan foto-fotonya bersama Dad. Aku juga tak ingin bertanya, karena hal itu akan membuat raut wajah Dad muram. Kurasa Dad selalu mencintai Mom. Dad akan "down" jika perseteruan kami berujung pada kata Mom. Dan biasanya kalau hal itu terjadi, akulah yang akan menang dalam pertengkaran itu. Tapi semalam aku tidak mengeluarkan jurus rahasiaku. Aku terlalu muak dengan semua itu dan lupa menyangkut-pautkan Mom kedalamnya. Tapi walau begitu, Mom pasti merasa sedih karena aku selalu memperalatnya nama jabatannya sebagai Mom, dan aku tidak menyesal karena tidak menyebutnya semalam.

Aku menyambar jaket dinginku sebelum keluar dari rumah. Bukan. Aku bukan kabur dari rumah, hanya saja aku mencari udara segar. Untung saja hari ini hari Minggu, kalau tidak pasti aku akan mengalami Bad-Mood sepanjang hari di sekolah. Aku berpikir tentang masalah semalam, Dad tidak seharusnya memarahiku. Aku yakin aku benar dalam keinginanku untuk mengikuti apa yang aku mau, dan pastinya aku bisa membedakan yang baik dan benar. Tapi Dad... aku muak.

Tak terasa dengan begitu banyak masalah di otakku, aku terdampar di suatu jalan. Di depanku terdapat tumpukan sampah dengan bau menyengat. Merasa terganggu dengan bau itu, aku membalikkan badan. Tapi sebelum aku membalikkan badan, mataku terpaku pada seorang gadis kecil di atas tumpukan sampah itu.

Gadis itu mengenakan baju terusan tipis yang lusuh, wajahnya kotor dan rambutnya di ikat asal-asalan. Aku penasaran dengan gadis itu. Aku berjalan mendekat ke arah tumpukan sampah itu sambil menutup hidung, tidak tahan dengan aromanya. Aku terkejut mengetahui bahwa gadis itu tidak sendirian. Ada dua gadis kecil lain yang mengais-ngais sampah. Mereka begitu fokus sampai tidak menyadari kehadiranku. Mungkin mereka hanya tidak memperdulikan diriku, atau orang lain yang melewati mereka.

"Kalian sedang apa dek?" tanyaku pada seorang gadis terdekat. Kupanggil dia dek, karena aku yakin mereka lebih muda dariku, sekitar lima tujuh tahun.

Gadis itu mendongak dan melihatku sekilas lalu balik ke kerjaannya, "Nyari uang kak."

Aku terheran. Bisakah sampah kotor dan bau itu menghasilkan uang bagi mereka? tanyaku dalam hati.

Merasa seseorang di sampingnya bengong akibat ucapannya, gadis itu yakin ia perlu memberikan penjelasan singkat. "Kami mengumpulkan barang ini untuk dijual. Kami gak  bisa ngelakuin apapun selain memilah sampah ini."

Oh. Aku terpaku. Tiga orang gadis mungil mengais sampah di pagi hari dengan pakaian serba tipis dan lusuh. Benar-benar tak disangka. Terlebih lagi kenyataan bahwa angin disini begitu dingin, terumata karena hujan deras subuh tadi. Aku merasa malu sendiri, aku membiarkan gadis-gadis muda di depanku bertarung dengan dinginnya pagi sambil bekerja, sedangkan diriku hanya menatapi mereka dengan baju tebal. Sungguh tidak adil rasanya.

"Orang tua ... kalian?" tanyaku hati-hati, takut kalau-kalau mereka yatim piatu dan hal itu akan membuat mereka sedih.

Sebelum gadis itu benar-benar mendengar pertanyaanku, sebuah teriakan lain mengalahkannya. "Udah siap?" teriak seorang bapak-bapak di belakang. Tampak sebuah sepeda dengan papan di sampingnya untuk meletakkan barang. Seorang wanita duduk di atas papan itu, dikepalanya bertengger kain besar. Becak itu berhenti di depan kami, penumpangnya bergegas turun begitu juga dengan pengemudinya.

"Belon pak!" seru gadis yang lain. Mungkin yang dimaksud adalah apakah mereka sudah siap mengais-ngais sampah kotor itu.

Bapak itu menatapku sekilas lalu balik dan membantu anaknya. Sementara ibu itu mengambil tong putih dari becak dan dengan cepat mengais sampah. Mereka berlima sama-sama dengan giat memilah-milah tumpukkan sampah dan melihatnya sebagai tumpukan uang. Di antara uang-uang itu, ada yang asli dan ada yang tidak. Dan untuk mencari yang asli mereka harus memeriksa satu-satu uang-uang di depannya. Setelah uang itu di dapat, mereka akan melemparnya kedalam tong putih. Lalu kembali lagi mencari uang asli.

Aku termangu. Lagi. Gadis itu pasrah dan ikhlas terhadap nasib yang mereka terima. Mereka sama sekali tidak mengeluh akan dinginnya pagi ini menerpa tubuh mereka. Mereka tidak berkomentar tentang bau sampah yang mereka hadapi. Mereka bahkan mengerjakannya sepenuh hati, bersama-sama. Kalau dibandingkan dengan diriku yang satu ini, pasti aku langsung kalah telak. Panas sebentar saja sudah langsung mengomel, apalagi dengan aroma menyengat ini. Tapi aku tahan keinginanku menutup setengah mukaku, rasanya kejam kalau hanya aku yang menutup hidung. Ibaratnya seperti seorang yang sombong sedang memperhatikan karyawannya dengan jijik.

Bapak itu menyadari bahwa aku masih belum beranjak dari tempatku, "Kenapa masih disini dek?"

Aku kehabisan kata-kata. Terlalu naif kalau aku menjawabnya dengan alasan sepele; ingin mencari udara segar sehabis bertengkar masalah keinginan sendiri. Sementara gadis itu tidak punya pilihan. Jadi aku hanya berujar lemah, "olahraga pak."

"Oh... gitu. Disini dingin lho dek. Bau lagi. Masa olahraga disini dek?" tanya bapak itu lagi.

Mau tak mau aku tidak nyaman dengan perkataan bapak itu. Aku hanya tersenyum salah tingkah. Aku meraba-raba saku jaketku. Seingatku masih ada beberapa barang didalamnya. Beberapa permen coklat kini bertengger di telapak tanganku. Dengan ini, setidaknya gadis itu punya jajan. Walau hanya secuil tapi setidaknya ada.

Kuberikan permen coklat itu pada gadis tadi. Dia melihat sebuah tangan didepannya, dan permen di atasnya. Dia mendongak dan melihatku lekat-lekat.

"Buat kalian." Kataku.

Kejadian hari ini tidak akan pernah kulupakan. Bahkan hanya dengan permen coklat yang kuberikan, gadis itu bahagia. Senyumnya merekah, manis semanis permen coklat yang kini dibagikannya dengan keluarganya. Gadis itu memberikanku banyak momen, sudah sepantasnya aku memberikan dia hadiah. Walau kutahu hadiah itu tidak seberapa dengan yang diberikan oleh gadis itu, yang penting aku ikhlas. Aku berdoa dalam hati semoga mereka sekeluarga mendapat berkah atas semua kerja keras yang mereka lakukan. Amin.


***


Suara percikan minyak goreng menyambut kepulanganku. Pasti Dad, pikirku. Aku bergegas melepaskan jaket dinginku dan menuju ke dapur. Dad dengan celemeknya menggoreng telur mata sapi. Aku berdiri di ambang pintu.

Dad tersenyum melihat kedatanganku. Aku membalasnya dengan senyuman terbaikku. Lalu aku duduk di kursi. Dad datang dan meletakkan dua porsi roti dengan telur di atas meja. Satu dadar untukku, dan mata sapi untuk dirinya sendiri.

"Dad..." "Jen..."

Kami berdua berbicara secara bersamaan. Kami sama-sama memandang satu sama lain. Aku memberanikan diri untuk bicara terlebih dahulu sebelum aku kehilangan momen penting satu ini.

"Dad, aku minta maaf kalau selama ini selalu menyusahkan Dad..."

Dad langsung menyelaku, "Dad juga. I'm really sorry. Aku tahu kau berhak mendapatkan keinginanku. Lakukanlah sesukamu. Tapi ingat, ada aturannya..."

Aku tak dapat menahan senyumku lagi. Dad memaafkanku, dan semua akan kembali normal! Aku berdiri dan kupeluk Dad erat-erat. Dad merangkulku dengan tangan besarnya.

"asalkan itu baik." sambung Dad.


sumber gambar : http://images.gourmandia.com/images/gourmetrecipe/recipe_images/ua-chocolate-candy-recipe-882.jpg
sumber cerita : dari gua! Kalau kebetulan ceritanya mirip, gua minta maaf tapi ini murni imajinasi gua. :)
Lanjut Baca »